Puisi
Jika keris itu adalah sebuah sajak, pastilah dapat dirasakan mana sajak buatan perajin yang sekedar memenuhi target produksi dan mana sajak buatan empu yang, demi menjaga kualitas, harus memenuhi kaidah-kaidah pakem yang tidak dapat ditawar-tawar. Tentu saja menempa sebilah sajak tidak harus menghabiskan waktu selama waktu menempa sebilah keris, walaupun beberapa penyair serius ada juga yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan sebuah sajak. Yang lebih penting adalah etos kerja keempuan itu. Produktivitas, di sisi yang lain, pun tidak diharamkan. Nyatanya banyak juga penyair yang begitu produktif sembari tetap menjaga etos keempuannya. Memiliki etos keempuan sekaligus produktivitas semacam ini adalah sebuah kemewahan yang wajib disyukuri, tetapi jangan sampai tuntutan produktivitas itu mengurbankan etos keempuan itu.
Seorang pembuat keris, sebelum layak disebut empu, harus menjalani latihan-latihan yang berat, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia harus menguasai metalurgi bahan sama baiknya dengan ia menguasai palu dan tungku untuk memasak keris. Tetapi yang lebih berat adalah ilmu mengolah rasa, olah batin, agar keris masterpiece buatannya tidak terpolusi oleh ke-aku-annya, tidak dikotori oleh kekuatan-kekuatan rendah, dan yang paling penting agar keris itu bukan menjadi senjata pembunuh melainkan menjadi perlambang ketajaman kearifan penyandangnya dalam misi “memayu hayuning bawana”, memuliakan kehidupan di muka bumi. Dengan demikian, sebilah keris itu akan “hidup”, sebab sang empu telah menitiskan ruh kreatifnya ke dalam wadag sang keris.
Demikian pula sebaiknya seorang penyair dengan sajak-sajaknya.



Rifan berkata
Bertabur kasih berjuta Sayang
Merangkul Cinta lewat Angan
Berbagi sayang dalam Hayal
Bersenandung mesra dalam Impian
Seiring senyum sehangat Pelukan
Dengan Tulus ku ucapkan I Love You… ..