Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

Waspadai Titik Rawan Pernikahan

Posted by Fredy_As pada 13 Juli 2011

Komitmen Cinta perlu dijaga sepanjang waktu agar kehidupan rumah tangga tak sekedar rutinitas. Waspadai masa-masa perkembangan pernikahan agar cinta tak menemui sandungannya.

 

Masa Bulan Madu dan Adaptasi :

Tahun-tahun awal adalah tahun bulan madu tapi sekaligus penyesuaian diri. Sandungan cinta pada saat ini adalah rasa kaget saat mengetahui siapa sebenarnya sang suami atau istri. Tanpa upaya untuk saling membantu dalam beradaptasi, rasa kaget ini dapat berkembang menjadi persoalan tersendiri. “Seringkali sesudah kawin kita tampil seadanya. Toh masing-masing mesti melihat yang sebenarnya. Tetapi, jangan cuma jelekhya saja yang keluar, yang bagusnya juga, harus ada imbangannya”.

Masa Punya Balita :

Kesibukan mempunyai bayi bisa melupakan persoalan yang muncul seputar proses adaptasi. Cinta kembali bermekaran. Namun rutinitas dan kelelahan mengurus anak bisa menjadi sandungan cinta. Perlu upaya untuk membangkitkan gairah cinta dengan, misalnya, menyediakan waktu untuk pergi berdua.

 

Masa Anak Mulai Sekolah :

Rata-rata keluarga muda memiliki persoalan pada masa ini, baik masalah keuangan maupun masalah kegiatan anak. Kelelahan memikirkan biaya pendidikan dan mendampingi kegiatan belajar anak bisa menjadi sandungan cinta. “Siapa yang mengantar anak sekolah, siapa yang menemani bikin PR, itu bisa memicu pertengkaran. Yang menjadi maslah, belum apa-apa sudah nafsu. Kamu kan tahu, saya capek!”. Upayakan membangun komunikasi dengan cara yang tepat dalam membagi tugas dan pekerjaan.

 

Masa Usia Anak Veranjak Remaja :

Pada masa ini, prilaku anak remaja yang kadang sulit diatur, berimbas pada hubungan cinta kedua orangtuanya. Saling menyalahkan dan saling merasa benar dalam proses pendidikan anak bisa menjadi sandungan cinta. “Kadang suami bicara, kamu nggak ngajarin yang bener, kan kamu yang ada dirumah. Si istri merasa itu bukan hanya tugasnya, tapi juga tugas suaminya”.

Dalam situasiseperti ini, sebaiknya suami-istri berada dalam satu front, sebab anak akan tahu bagaimana caranya “Mengadu Domba” orangtuanya. Perbedaan bisa saja terjadi, tapi harus ada upaya komunikasi untuk mencapai kata sepakat.

 

Masa Anak-Anak Pergi :

Selama ini mungkin yang menjadi pengikat cinta adalah anak. Saat anak-anak pergi (menikah atau sekolahdi luar kota, red), terjadi kekosongan. Karena itu, jangan jadikan anak sebagai satu-satunya alat perekat kebahagiaan rumahtangga. Injeksikan sesuatu yang baru pada kehidupan pernikahan Anda. Misalnya, kalau suami pergi tugas ke luar kota atau luar negeri, minta izin kantor untuk pergi bersama suami, mendatangi tempat-tempat penuh kenangan dan saling berintropeksi.

Intisari penuturan Dra. Yati Utoyo Lubis, M.A, Ph.D, seorang psikolog dan dosen Fak. Psikologi UI.

Dikutip dari laporan Vieny Mutiara. Majalah UMI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: