Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

KETIKA JUJUR TIDAK LAGI JADI IDOLA

Posted by Fredy_As pada 29 Juli 2011

KETIKA JUJUR TIDAK LAGI JADI IDOLA

 

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisa[4] : 69)

 

Jujur itu sangat mahal biayanya, kalau dihitung bisa mencapai trilyunan, hal ini terbukti lembaga-lembaga yang dibuat hanya untuk mengawasi agar tidak terjadi korupsi atau penyimpangan-penyimpangan. Kalau kita cermati legi lebih baik uang trersebut digunakan untuk orang yang kurang mampu.

Selain itu, lembaga pendidikan pun masih harus dicurigai, karena sedikit ditengarai belum mampu menegakkan kejujuran, padahal dunia pendidikan adalah tempat satu-satunya yang masih diperhitungkan dalam mencetak generasi yang jujur dan amanah. Sebagai contoh cukup aktual, yakni pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang memerlukan sekian banyak pengawas, termasuk harus melibatkan kalangan perguruan tinggi, jika pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ujian itu dipercaya kejujurannya maka tidak memerlukan semua itu. Selain itu, menghabiskan banyak finansial.

Ada dua faktor yang membuat seseorang untuk tidak jujur yaitu : faktor  internal dan eksternal.

Faktor Internal

Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas dan kompetensi diri/pengalaman dan pengamalan agama yang diyakini karena apabila seseorang memahami agama secara kaffah maka ia akan amanah dan jujur ketika beraktivitas dimana, kapan, dan dengan siapa saja.

Internalisasi nilai-nilai illahiyah dalam diri amatlah besar berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Alhasil, ia akan selalu jujur disebabkan meyakini Allah SWT selalu mengawasinya.

 

Faktor Eksternal

a)        Keluarga

Keluarga sangatlah penting, karena keluarga merupakan tempat memperoleh pendidikan dan pengajaran yang diantaranya norma-norma keteladanan (baik dan buruk) mau’izhah hasanah, dan pengalaman rasa keagamaan (berkaitan dengan Aqidah, Akhlak, Mu’amalah, Ibadah) baik secara lisan maupun secara praktek.

Selain itu, di dalam keluarga dengan sendirinya akan terbentuk sifat dan sikap baik maupun sifat dan sikap jelek, hal ini disebabkan adanya ketauladanan. Percontohan dari semua komponen keluarga, baik langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh ketauladanan “tidak jujur” (kizib) lambat atau cepat akan menjadi kebutuhan. Oleh sebab itu, janganlah berharap banyak akan menghasilkan insan-insan yang memiliki kompetensi jujur yang tinggi jika tidak ditanamkan dengan benar dan sedini mungkin karena keluarga adalah barometer. Oleh sebab itu, keluarga harus mempunyai pondasi yang utuh lagi kokoh. Firman Allah SWT : ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah yang khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa [4] : 9).

b)        Masyarakat

Kita membutuhkan sosialisasi, berinteraksi dengan lingkungan tempat beraktifitas, baik di tempat kerja, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas. Disinilah lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Hal ini karena kehidupan masyarakat menganut nilai-nilai, aturan, dan pola fikir yang berbeda-beda. Selain itu, tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi seseorang. Walaupun dikeluarga telah diteladani banyak hal, namun semua itu belum dapat menjadi jaminan yang pasti. Bahkan besar kemungkinan akan mengarah pada hal-hal yang buruk. Disebabkan kebiasaan atau adat istiadat (budaya) dalam masyarakat yang heterogen sekali. Ditambah lagi pengaruh informasi yang datang dari berbagai arah yang tak dapat dibendung. Sebagai contoh apabila seseorang telah dibiasakan dan terbiasa untuk “tidak jujur” atau hal-hal buruk lainnya dalam keluarga, ketika ia berinteraksi atau bergaul dalam masyarakat akan sangat berpengaruh besar kepada yang lain, ditambah lagi bila hukum sosial  kemasyarakatan tidak berjalan baik.

c)        Sistem

Bicara sistem sangatlah kompleks, karena sistem tersebut memiliki aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan. Apabila kita ingin berbuat jujur akan berhadapan dengan aturan dan kebijakan tersebut. Ditambah lagi, tidak jujur dianggap sesuatu budaya dan diamini oleh semua budak sistem yang ada. Padahal, kita harus sadar dan menyadari bahwa apa yang kita lakukan akan menjadi saksi dan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT :”Pada hari ini kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (QS. Yaasiin [36] : 65)

 

Kenapa Kita Harus Jujur

Banyak alas an untuk menjawab kenapa kita harus jujur. Diantaranya :

  1. Mendapat kenikmatan dari Allah SWT. Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati syahid”. (QS. An-Nisa [4] : 69)
  2. Jujur adalah Sifat Para Nabi

Sungguh tak bisa ditawar lagi bahwa kejujuran merupakan sifat yang paling agung yang harus dimiliki oleh para Nabi. Firman Allah SWT : “Yusuf, Wahai orang jujur! …” (QS. Yusuf [12] : 46). Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman : “Ceritakanlah di dalam kitab ini kisah Ibrahim. Sesungguhnya dia adalah seorang yangsangat  jujur lagi seorang Nab i…” (QS. Maryam [19] : 41).

  1. Jujur Akan Membawa Ke Surga

Ibnu Mas’ud ra,. Dari Nabi SAW. bersabda : “… Wajib atas kalian berbuat jujur. Karena sesungguhnya jujur akan menunjuki kebaikan dan kebaikan akan menunjuki ke surga dan tidak henti-hentinya seseorang berbuat jujur dan memilih sampai ditulis Allah disisi-Nya sebagai orang jujur. (H.R. Bukhari dan At-Tirmizi).

  1. Keadilan ditegakkan

Keadilan dapat ditegakkan dan dilaksankan apabila jujur nebjadi idola dan telah menyatu dalam sendi-sendi kehidupan sehari-sehari. Kejujuran membuat aturan dan tatanan sosial akan berfungsi kembali, dan akan mengurangi kemungkaran-kemungkaran. Yang pada akhirnya kemaslahatan-kemaslahatan akan bersemi kembali karena segala sesuatu dilakukan dengan jujur. Firman Allah SWT : “Hai orang-orang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya…”(QS. An-Nisa [4] : 135).

 

Hakekat Tingkatan Jujur

Lafazh shiddiq digunakan dalam enam makna : jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan keinginan, jujur dalam hasrat (azm), jujur dalam memenuhi hasrat, jujur dalam perbuatan, dan jujur dalam merealisasikan semua maqam agama. Seorang yang berlaku jujur pada keenam hal diatas disebut shiddiq (orang yang sangat jujur). Tingkatan jujur tersebut berlainan tingkatannya pada setiap orang.

Pertama, jujur dalam perkataan. Kejujuran dalam perkataan dapat diketahui ketika ia memberikan suatu berita baik yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu maupun yang akan datang. Selain itu, juga ketika menepati janjinya dan tidak melakukan sumpah palsu. Dalam hal ini, setiap orang berkewajiban untuk menjaga lidahnya selain mengatakan yang benar. Barangsiapa yang menjaga lidah dari perkataan bohong ketika memberikan kabar atau berbicara, maka ia disebut orang yang jujur (shiddiq).

Kedua, jujur dalam niat dan keinginan. Hal ini berkaitan dengan maslah ikhlas, yaitu setiap perbuatan dan ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah. Akan tetapi, ketika perbuatannya dinodai dengan keinginan selain Allah, maka ia disebut pembohong(kadzib).

            Ketiga, juur dalam hasrat (‘azm). Terkadang sebelum melakukan pekerjaan, timbul hasrat dari seseorang. “Apabila Allah memberikan rezeki kepadaku, maka aku akan menyedekahkan seluruhnya (atau sebagiannya)”. Atau hasrat seseorang. “Apabila aku berjumpa dengan musuh di medan peperangan, maka aku akan membunuhnya tanpa takut diriku terbunuh”. Atau “Apabila aku diberi kedudukan, maka aku kan berlaku jujur dan tidak akan melakukan perbuatan semena-semena dan kezaliman terhadap rakyatku”. Hal ini merupakan ungkapan dari hasrat seseorang yang terkadang didukung oleh kejujuran (shiddiq).

            Keempat,jujur dalam memenuhi hasrat tersebut. Terkadang, seseorang mudah mengungkapkan hasrat dan keinginannya karena tidaklah berat untuk mengungkapkan kemampuan dan keinginan yang kuat agar hasrat itu dapat terwujud dengan benar. Sebagaimana Firman Allah SWT :  “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”. (QS. Al-Ahdzab : 23).

Kelima, jujur dalam perbuatan. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Hatinya harus mendorong anggota tubuh untuk melakukan apa yang diinginkan oleh hati. Jujur dalam perbuatan bertentangan dengan pelaku riya, dimana orang yang riya menampakkan baik secara zhahir tapi hatinya tidak baik. Ketika melakukan Shalat, ia terlihat khusyu akan tetapi hatinya mengikuti hawa nafsunya. Orang seperti ini tidak jujur dalam perbuatannya, meskipun ia tidak ada keinginan untuk pamer dan mencari simpati orang lain.

Maka, seseorang yang perbuatannya tidak sesuai dengan kata hatinya, dengan penuh kesadaran dan sengaja, maka disebut riya dan tidak sampai mencapai ikhlas, sedangkan apabila tidak disengaja, maka ia tidak mencapai tingkat shiddiq. Jadi, keserasian antara perbuatan dengan hatinya merupakan salah satu makna shiddiq.

Keenam, ini merupakan derajat yang paling tinggi dan mulia yaitu shiddiq, atas maqam-maqam agama, misalnya adalah jujur dalam rasa takut (khauf), jujur dalam penuh pengharapan (raja’), jujur dalam memuliakan Allah (ta’zhim), jujur dalam ridha atas ketentuan Allah, jujur dalam tawakkal, jujur dalam mencintai Allah, dan jujur dalam segala perkara.

Sebagai akhir kata kita perlu muhasabah secara lebih mendalam, baik secara pribadi maupun buat kita sekeluarga supaya kita selalu mendidik dan mengajarkan serta mengamalkan “jujur” karena akan menyelamatkan kita. Anjuran untuk jujur merupakan aturan main Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist karena aturan adalah pasti.

 

Disadur dari Risalah Jum’at edisi 24/XX, 16 Jumadats Tsabiyah 1432 H. 20 Mei 2011 M

 

 

 

Azhari, S.Pd.I

(Guru SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: