Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

Twitter “Ur Number is Up!”

Posted by Fredy_As pada 7 Agustus 2011

Pengguna Twitter sudah menganggapnya sebagai angka keramat. Menyampaikan pokok fikiran dengan jelas dan tepat hanya dalam 140 karakter. Ini bukanlah hal yang mudah. Tengok apa kata Twitter kalau pesan kita lebih dari 140 karakter, “Your tweet was over 140 characters. You’ll have to be more clever.”

Lebih pintar! Pinta aplikasi ciptaan Jack Dorsey ini. merangkai kata dan menyingkat-nyingkat menjadi jalan terakhir. Semua harus muat dalam 140 karakter.

Ada sih program yang membuat kita menulis lebih panjang dari sekedar 140 karakter. Namun program itu, salah satunya ‘dibunuh’ Twitter. Alasan mereka, menulis lebih dari 140 karakter akan menghilangkan kekhasan Twitter.

Eh ngomong-ngomong, sudah tahu rahasia mengapa harus 140 karakter..? Hemmm… kenapa yah?

Selidik punya selidik, alasannya ternyata ini terkait dengan pengguna Twitter. Pendiri Twitter, beranggapan aplikasinya akan lebih banyak diakses oleh pengguna telepon seluler (ponsel). Ini memang benar, pengguna Twitter di ponsel selalu meningkat.

Nah, Twitter berupaya menyamakan ‘platform’ pesan mereka dengan system pesan singkat (SMS) di ponsel. Masih ingat dong kalau per SMS itu hanya boleh 160 karakter. Kalau lebih berarti 2 SMS dikirim, dan seterusnya.

Twitter beranggapan bahwa pengguna ponsel akan mengirim pesan mereka via SMS kepada Twitter. Tidak lewat jaringan internet GPRS, EDGE, 3G, 4G, maupun Wifi. Dengan demikian tiap pesan yang dikirim tetap 160 karakter versi SMS. Eh tapi, kan twitter hanya 140 karakter. Kemana yang 20 karakter lainnya ?

Ini ternyata ‘disimpan’ Twitter untuk identitas si pengirim, dengan asumsi, nama akun pengirim Twitter maksimal panjangnya 20 karakter. Jadi deh Twitter sekarang mentok di 140 karakter. Begitu tweeps!

Ok! Sekarang kita sudah tahu apa alasan Twitter menggunakan 140 karakter untuk tiap pesannya. Yaitu mengikuti standar teks SMS ponsel yang sebanyak 160 karakter. Kalau begitu, kenapa sih SMS dibatasi hanya 160 karakter saja?

Sejarahnya ternyata ada loh!

Kisahnya bermula dari Ketua Komite Jasa Telekomunikasi Non Suara di Global System of Mobile Telecommunications, Friedhelm Hillebrand. Saat itu 1985. Tugas Hillebrand sat itu adalah menemukan jalan baru berkomunikasi antar individu tapi tidak menggunakan suara.

Pesan singkat menjadi solusi. Namun masalahnya kemudian, seberapa singkat pesan tersebut?

Berapa karakter yang dibutuhkan untuk mengirim pesan yang sesuai keinginan tiap pengguna ponsel?

Hillebrand putar otak. Ia menemukan beberapa fakta sebagai berikut :

  • Pertama, Pita jaringan telekomunikasi era 1980-an belum selebar sekarang. Hitung punya hitung, jaringan telekomunikasi hanya mampu menampung pesan sebesar 128 karakter saja. Dengan sedikit modifikasi, maksimal karakter untuk pesan itu bisa ditingkatkan hingga 160 karakter.
  • Kedua, benarkah komunikasi via teks efektif hanya dengan 160 karakter ? Hillebrand beragumen cukup. Ini setelah ia memperhatikan pesan-pesan yang dikirim via kartu pos. dari pengamatannya, pesan dikartu pos saat itu tak lebih dari 150 karakter. Dengan demikian, asumsi pesan 160 karakter sudah cukup jelas bagi si penerima.
  • Ketiga, Hillebrand dan timnya mengamati betul pola komunikasi via telex. Telex saat itu adalah bentuk canggih dari Telegram bagi pebisnis professional. Hasil pengamatannya, ternyata pengguna telex kerap mengirim pesan singkat yang serupa dengan kartu pos, sekitar 150 karakter.

“Lihat deh rata-rata surat elektronik (email) yang Anda terima. Inti pesan sudah ada disubyeknya. Isi pesan umumnya hanya sepanjang satu atau dua baris saja. Itu sekitar 160-an karakter,” kata Hillebrand.

Argument Hillebrand diterima oleh petinggi GSM (Global System of Mobile). Mereka membuat dekrit bersama. Seluruh penyelenggara komunikasi ponsel harus menggunakan program SMS sepanjang 160 karakter.

Jadilah Hillebrand kini dikenal sebagai ‘Bapak SMS’. Ngomong-ngomong, apakah Hillebrand mendapat royalti dari temuan jenius itu? Ternyata tidak. Dimasa tuanya, Hillebrand hidup sederhana di kota Bonn, Jerman. Meski ia salah satu penemu terpenting di bidang telekomunikasi.

“Mungkin harusnya ada semacam royalti bagi pencipta SMS ya. Katakanlah berapa sen setiap SMS yang terkirim.” Kata Hillebrand, berkhayal. “SMS itu benar-benar cara yang paling efektif untuk berkomunikasi,” sambungnya.

Sudut Rahasia

Kamu pernah memikirkan mengapa angka inti yang kita gunakan sekarang jumlahnya seperti itu? 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0. Adakah rahasia dibaliknya?

Ternyata ada loh. Jumlah angka-angka itu ternyata melambangkan jumlah sudut yang terbentuk dari tiap lambing angka. Maksudnya begini : Angka 1 hanya akan memiliki satu sudut. Dimana sudut itu? Ada tepat diujung pertemuan batang yang panjang dengan ‘ujung’ angka yang meruncing. Jadilah itu sudut. Begitu juga dengan angka 2. Jumlah sudut yang dihasilkan dari bentuk angka dua adalah dua sudut. Pertama adalah sudut dibawah, kedua sudut di kepalaangka. (lihat gamabar). Dan begitu seterusnya hingga angka Sembilan dan nol. Unik kan!

 

 

 

 

Berpasangan

Rahasia angka lagi!

Kali ini coba kamu tulis angka satu sampai Sembilan. Lalu kamu cocokkan huruf pertama masing-masing angka. Lucu kan, ternyata huruf pertama tiap angka itu berpasangan.

Satu dengan Sembilan

Dua dengan Delapan

Tiga dengan Tujuh

Empat dengan Enam

Lima dengan Lima

 

Yang juga mengherankan, coba anda jumlahkan pasangan angka tersebut. Hasilnya pasti angka 10. Tidak percaya?

 


 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Tabloid  janna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: