Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

ORANGTUA JUGA BISA DURHAKA

Posted by Fredy_As pada 9 Agustus 2011

Orangtua Durhaka?

Kok Bisa?

Anak mendurhakai orangtuanya, tak sedikit kita dengar. Tapi orangtua yang durhaka kepada anaknya, adakah? Ada!

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersada, “Berbaktilah kepada orangtua kalian, niscaya anak-anak kalian berbakti kepada kalian. Apabila tidak melakukannya, niscaya (kalian) tidak akan mendatangiku di danauku (di Surga).” (Riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah)

Fatimah kecil terdiam. Dipandanginya jasad yang terbaring di hadapannya. Bunda Khadijah radhiyallahu ‘anha, perempuan yang selama ini menghujaninya dengan kasih sayang melimpah, pergi untuk selamanya.

Kepedihan hati Fatimah sang Bunga menyentuh lubuk hati Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, manusia yang disifati Allah “sangat pengasih dan penyayang.” Tangisan Fatimah radhiyallahu ‘anha terasa bagai pisau yang mengiris-iris hatinya. Beliau merasakan kepedihan anak tercinya yang kehilangan ibunya, karena di usia yang hampir sama, itupun terjadi padanya. Beliau memeluk Fatimah dengan seluruh kecintaan dan kasih sayang kepadanya. Pelukan ayahanda yang tulus itu tidak pernah hilang dari benak Fatimah kecil sepanjang hayatnya.

Dihadapan orang banyak, sering Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam menunjukkan kecintaannya kepada Fatimah. Kecintaan yang didalamnya terkandung kasih sayang yang tulus, perhatian, dan keinginan memuliakannya. Beliau menunjukan kecintaannya agar kaum Muslimin tahu kedudukan Fatimah dalam hati Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam.

 

Beliau bersabda, “Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga mengganguku.” (Ibnul Abdil Barr dalam Al Istii’aab).

Tak cukup bersemayam dalam hati seorang hamba Allah yang paling mulia, kecintaan kepada Fatimah juga terhunjam dalam jantung syariat. Fatimah telah meriwayatkan 18 hadist dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Di dalam shahihain Bukhari dan Muslim diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Kami tidak mengetahui seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam yang lebih banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah.”

 

Fatimah tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang ayahnya yang tak terhingga. Ia membalas kecintaannya pada sang ayah dengan sepenuh jiwa. Ia mengasihi, merawat dan memperlakukan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana seorang ibu memperlakukan anaknya.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam  pulang dengan wajah dan kepala yang tertutup lumpur, Fatimah menyambut ayahnya dengan tangisan. Ia mengambilkan air, membasuh kepala dan wajah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dengan tangan-tangan kecil yang terus menerus bergetar karena kesedihan, kemarahan dan kebingungan.

Ia sedih karena orang-orang telah memperlakukan ayahnya seeprti itu. Ia marah karena orang-orang membalas kebaikan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan penghinaan. Ia bingung mengapa orang memusuhi Muhammad yang begitu baik, begitu mulia, begitu agung. Ia tak mengerti mengapa orang menganiaya seseorang yang tanpa pamrih berjuang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.

At-Thabrani menceritakan, “Ketika kaum musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, para Sahabiyyah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanya dengan air, sehingga darah semakin banyak yang keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar.”

Itulah Fatimah binti Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, seorang yang tak hanya menjadi kebanggaan dan buah hati orangtuanya, tapi juga kebangaan umat.

BAGAIMANA ORANGTUA DURHAKA?

Ada sebuah proses panjang yang terlibat dalam durhakanya orangtua kepada anaknya. Yang jelas, seorang ayah atau seorang ibu yang mendurhakai Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hidupnya akan besar sekali kemungkinannya mendurhakai anak keturunannya.

Misalnya, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam sebenarnya memberikan tuntunan yang jelas sekali bahwa proses membentuk  kepribadian anak yang suci harus dimulai sejak seseorang memilih suami atau isterinya. Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Pilihlah untuk sperma kalian tempat-tempat yang.’ Sebaik-baik pilihan dalam menikahi seseorang adalah karena agamanya, keshalihannya, dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

 

Tak hanya berhenti dalam perubahan status pernikahan, membentuk anak berkepribadian unggul dilanjutkan dalam proses hubungan suami-isteri. Agar benih anak yang ditanam ke rahim sang isteri tidak terkontaminasi oleh campur tangan setan, maka sebelum bersetubuh pasangan suami isteri dianjurkan untuk berdoa dan membaca kalimat-kalimat thayyibbah (yang baik dan bermanfaat), serta memilih waktu dan tempat yng baik.

Begitu pula ketika anak dalam kandungan, orangtuanya harus lebih banyak bermunajat kepada Allah, memohon kepadaNya agar jabang bayi yang sedang dalam kandungan itu dapat dilahirkan dengan mudah dan kelak menjadi anak yang shalih.

Ketika si anak dilahirkan oleh ibunya, maka yang pertama kali dilakukan oleh sang ayah adalah mengazankan di telinga kanannya dan mengiqamahi di telinga kirinya sebelum anak tersebut mendengar suara yang beraneka ragam berbau maksiat. Oleh sebab itu, telinganya dan jiwanya harus ditanami lebih dahulu dengan kalimat-kalimat tauhid, sebagai landasan ideologinya nanti setelah tumbuh dewasa.

Sesudah tujuh hari kelahirannya, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam menganjurkan agar si anak di aqiqahi, sebagai bentuk gambaran dari rasa tanggung jawab si anak terhadap umat yang akan diembannya nanti.

Mempersiapkan segala macam sarana agar anak berbakti kepada kedua orangtua dan menaati perintah Allah Ta’ala dapat membantu anak untuk berbakti dan mengerjakan ketaatan serta mendorongnya untuk selalu menurut dan mengerjakan perintah dalam rangka ketaatan kepala Allah Ta’ala.

Dalam rangka menciptakan suasana yang mendukung anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam  berdoa untuk segenap orangtua agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan rahmat dan keridhaanNya kepada mereka dalam aktivitas membantu anak-anaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa salla bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat kepada orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Sehingga dapat disimpulkan, ada tanggung jawab besar di pundak kedua orangtua dalam membantu anak mereka untuk berbakti. Diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.”

Jika ingin mengetahui kepribadian dan tingkah laku seseorang, maka lihat akhlak anaknya. Sebab, tingkah laku anak itu tidak lepas dari pengaruh tingkah laku orangtuanya. Ini adalah sunnah ilahiyah sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq : “Berbuatlah sesukamu, karena sebagaimana engkau berperilaku, demikian juga engkau diperlakukan.”

Anak-anak lebih mudah menyontoh sebab manusia memiliki sifat peniru, karena sifat peniru inilah yang menjadikan dirinya melakukan identifikasi diri. Dunia anak adalah dunia menyontoh dan meniru, sebelum menganalisa dan memilih nantinya. Maka tepat sekali jika Rasulullah menganjurkan kepada orangtua agar memberi contoh tingkah laku yang baik pada anak-anaknya, seperti contoh berbakti kepada orangtua, agar anak-anak tumbuh baik. Dengan demikian, orangtua menjaga diri mereka dari kemungkinan mendurhakai anak-anaknya.

JAGALAH BENIH-BENIH KETAATAN

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Al-Bukhari)

Ketaatan pada Allah adalah hal yang telah ada dalam diri setiap anak, karena bagian dari ‘paket kelahiran’.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan).’” (Al Quran surat Al-A’raf (7) : 172)

Adalah tugas orangtua untuk senantiasa menjaga kebaikan dalam diri anak sehingga ia tak jadi ‘orang dewasa yang lalai’ atas fitrahnya, sebagaimana dicontohkan Rasullah.

HORMATI HAK ANAK

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bertanya kepada anak itu, ‘Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (para orangtua itu terlebih dahulu)?’ anak itu menjawab, ‘Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun’. Maka Rasulullah meletakkan cawan itu di tangan si anak itu.”

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam menunjukkan bahwa orang yang berada di sebelah kanan harus didahulukan dari yang berada di sebelah kiri. Kebetulan pada saat itu yang ada di sebelah kanan beliau adalah seoarang anak, maka meskipun dia masih anak-anak, hak dan keberadaannya harus dihormati dan dihargai.

Abi Rafi’ meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hak anak yang wajib dipenuhi orangtuanya adalah mengajarinya menulis, berenang, memanah dan tidak memberinya rizqi (makan) kecuali dari yang halal.”

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hak anak yang wajib dipenuhi orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, dan memperbaiki adabnya.”

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hak anak yang wajib dipenuhi orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, menikahkan dirinya ketika telah dewasa dan mengajarinya menulis.”

‘Aisyah meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, “Hak anak yang harus dipenuhi orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, memperbaiki tenpat (tinggal)nya dan memperbaiki adabnya.”

Para ayah dan ibu yang tak mau memenuhi hak-hak tersebut di atas itu harus hati-hati bahwa mereka tengah melakukan kedurhakaan kepada si Kecil.

JANGAN BOHONGI ANAK

Menanamkan kejujuran pada anak-anak tidak akan berhasil jika orangtua sendiri sering bersikap tidak jujur kepada mereka. Kejujuran harus dimulai dari diri sendiri sebelum memerintahkan orang lain, terutama kepada anaknya. Dengan menghindari kebohongan, maka akan tertanam kuat dalam hati anak suatu pemahaman bahwa berbuat jujur merupakan kewajiban agama yang harus dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orangtua.

Seperti yang Rasulullah sabdakan, “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui kamulah yang memberi mereka rizqi.” (HR At-Thahawi)

Abdullah bin Amr berkata, “Pada suatu hari ibuku memanggil aku. Ketika itu Rasulullah duduk di rumah kami. Ibu berkata, ‘kemarilah, kamu akan aku beri (sesuatu).’ Rasulullah kemudian berkata kepada ibuku, ‘Benarkah engkau bermaksud memberinya?’. Ibu lantas menjawab, ‘Aku bermaksud memberinya kurma’. Beliau lalu berkata kepada ibuku, ‘Kalau ternyata engkau tidak memberinya apa-apa maka engkau tercatat telah berdusta.’” (HR Abu Dawud)

BERSIKAP ADIL

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Ibnu Hibban, “Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian, berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian.’”

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah bersabda, ‘Berlaku adillah terhadapa anak-anak kalian dalam pemberian seperti kalian suka apabila mereka berlaku adil terhadap kalian dalam hal ini adalah kelembutan.’” (HR Ibnu Abid Dunya, dalam kitab al ‘Iyal)

Termasuk di dalam dalil ini adalah tak membedakan perlakuan antar anak laki-laki dan anak perempuan.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Seorang sedng duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Tidak lama kemudian datanglah anak laki-lakinya. Dia pegang, lalu dia cium, dan dia dudukkan di pangkuannya. Kemudian datanglah anak perempuannya. Dia pegang dan dia dudukkan di sampingnya. Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Engkau tidak berlaku adil terhadap mereka berdua.’”

Membedakan anatara anak yang satu dengan anak yang lainnya dapat mengakibatkan timbulnya permusuhan, kedengkian dan kebencian di antara mereka, yang menyebabkan terputusnya tali persaudaraan. “Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Sesungguhnhya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di samping kanan Ar Rahman ‘Azza wa Jalla, kedua TanganNya adalah kanan, yaitu orang-orang yang berlaku adil pada keputusan, keluarga dan apa yang mereka kuasai.”

TIDAK MARAH ATAU MENCELA

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang berkata, “Aku menjadi pembantu Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam selama sepuluh tahun. Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku, beliau bersabda, ‘Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya.’”

Tindakan ini menumbuhkan perhatian mendalam dan malu pada diri anak kecil bernama Anas.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Urwah, dari bapaknya berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam atau Abu Bakar, atau ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada seseorang yang sedang mencela anaknya atas sesuatu yang dilakukannya, “Anakmu adalah anak panah dari tempat anak panahmu.” Sehingga ketika orangtua mencela anaknya, pada dasarnya di sedang mencela dirinya sendiri. Sebab, bagaimanapun dia jugalah yang telah mendidik anaknya tersebut.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Ajarilah, permudahlah, jangan engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila seorang diantara kalian marah, hendaknya diam.’” (HR Ahmad dan Bukhari)

ORANGTUA TAAT, ANAK TAAT

Rasulullah bersabda, “Didiklah anak-anak kalian, sesungguhnya mereka diciptakan menjadi generasi yang berbeda dengan generasi zaman kalian.”(HR At-Tirmidzi) Hadist ini merupakan salah satu bukti dari pemikiran Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam yang jauh ke depan. Anak-anak akan menjadi seperti ia disiapkan. Jika ia disiapkan untuk menjadi seorang Muslim dewasa yang taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sejak anak-anak, ia diajarkan untuk siap mencintai dan meyakini bahwa ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pilihan yang terbaik bagi dirinya.

Apabila kita paham mengapa si anak durhaka (menolak taat) kepada kedua orangtuanya di usia kanak-kanaknya, maka jalan terbaik untuk membenahi perilakunya secara sempurna adalah kita terlebih dahulu membenahi perilaku kita serta menggantikannya dengan sikap bakti, ketaatan dan menjauhkan diri dari sikap durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anak kita, dalam bentuk apa pun. Dengan demikian, sikap dan perilaku orangtua akan menurun kepada anak, baik dirasakan maupun tidak.

Wallahu’alam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sumber :

Aulia  I  MOSAIK  I  Mei 2011

2 Tanggapan to “ORANGTUA JUGA BISA DURHAKA”

  1. nurul said

    Subhanallah….

  2. tommy said

    aku juga mjd korban kedzoliman orang tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: