Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

Pendeta14

Kembali

Pendeta Menghujat Muallaf Meralat (14/22)

WAKTU SHALAT SANGAT KACAU

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Shalat Fardhu (shalat wajib).

Menurut Surat 17 Al Israa ayat 78 maka shalat wajib ditentukan 2 kali sehari, tetapi menurut Surat 11 Huud ayat 114, maka shalat wajib ditetapkan sebanyak 3 kali sehari.

Dan dirikan shalat pada kedua tepi siang dan sebahagian dari malam (3 kali sehari). (Surat 11 Huud ayat 114).

Dirikanlah shalat diwaktu tergelincir matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah) shalat subuh, sesungguhnya shalat subuh disaksikan (2 kali sehari). (Surat 17 Al Israa ayat 78). (hal. 38)

Menurut Hadits Shahih Bukhari nomor 211, maka Allah menetapkan bahwa shalat dilakukan sebanyak 50 kali sehari.

Kemudian atas perintah Musa kepada Muhammad maka terjadilah tawar menawar antara Allah dan Muhammad mengenai banyaknya jumlah shalat per hari yang harus dilaksanakan.

Adapun proses tawar menawar antara Allah dan Muhammad adalah sebagai berikut:

– Dari jumlah shalat sebanyak 50 kali sehari, menjadi 25 kali sehari.

– Dari jumlah shalat sebanyak 25 kali sehari, menjadi 12 kali sehari.

– Dari jumlah shalat sebanyak 12 kali sehari, menjadi 5 kali sehari. (hal. 39)

Dengan demikian jumlah kewajiban shalat yang ditentukan dalam Al Qur’an terdapat tiga versi, yaitu menurut surat 17 Al Israa ayat 78 ditentukan 2 kali sehari. Menurut Surat 11 Huud ayat 114 ditentukan 3 kali sehari, sedangkan yang ditentukan dalam Hadits Shahih Bukhari nomor 211, adalah 5 kali sehari yang terdiri dari:

1. Shalat Subuh; dimulai fajar sebelum matahari terbit.

2. Shalat Zhuhur; setelah matahari mulai turun.

3. Shalat Azhar; setelah matahari turun sebelum terbenam.

4. Shalat Maghrib; pada saat matahari terbenam.

5. Shalat Isya; pada saat warna merah di langit lenyap. (hal. 40)

Ternyata dalam hubungan ini kedudukan Hadits Shahih Bukhari lebih tinggi dari pada kedudukan Al Qur’an, karena pelaksanaan shalat yang diikuti adalah apa yang disebut dalam Hadits Shahih Bukhari dan bukan dari apa yang disebut dalam Al Qur’an. (hal. 41).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Memang, kalau dibaca atau diterjemahkan secara harfiah sesuai dengan yang tertulis dalam terjemahan dua ayat Al Qur’an tersebut, maka akan terkesan bahwa sebenarnya shalat itu hanya dua atau tiga kali sehari.

Itulah sistem berpikir orang awam setingkat anak TK.

Nah, kalau shalatnya umat Islam dituduh kacau, justru otaknya Himar Amos itulah yang kacau. Maklum saja, namanya saja Himar. Berarti otak dan pikirannya baru sebatas seekor himar.

Oleh sebab itu kalau ada umat Kristen yang mau percaya dengan bualan si Himar Amos tersebut, maka mereka akan jadi lebih himar daripada Himar Amos.

Hanya umat Kristen yang punya akal sehat dan hati yang bersih saja yang tidak mau ikut-ikutan dibodohi oleh penjelasan tersebut.

Pengertian dua ayat yang diselewengkan Himar Amos itu adalah sebagai berikut:

1. Al Israa’ 78

“Dirikanlah shalat di waktu tergelincir matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah) shalat subuh, sesungguhnya shalat subuh disaksikan”.

Jumlah waktu shalat yang dimaksud ayat ini adalah lima waktu, bukan dua waktu seperti penafsiran Himar Amos. Lima waktu tersebut adalah:

a. Waktu tergelincir matahari yaitu waktu untuk dua shalat, antara lain:

– Shalat Zhuhur, ketika matahari baru mulai tergelincir, kurang lebih jam dua belas siang.

Shalat Ashar, ketika matahari sudah lebih tergelincir kearah barat sebelum terbenam.

b. Waktu ‘sampai gelap malam’, yaitu dua waktu shalat:

– Shalat Maghrib, ketika mulai gelap

– Shalat Isya’, ketika sudah gelap malam.

c. Kemudian bunyi ayat terakhir sudah jelas dikatakan shalat Subuh.

Kalau dihitung, jelas sekali yang dimaksud ayat tersebut yaitu untuk shalat lima waktu (2 + 2 +1 = 5). Kepada Drs. Himar Amos kami sarankan agar belajar matematika lagi di SD supaya tidak mengatakan 2+2+1=2.

2. Huud 114

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan sebagian dari malam” (Huud 114).

Yang dimaksud dengan shalat pada ‘dua tepi siang’ tersebut adalah:

a. Tepi yang pertama, yaitu shalat di waktu pagi (Shubuh) dan lepas tengah hari (Zuhur) dan setelah tergelincir matahari (Ashar).

b. Tepi yang kedua, yaitu bagian terdekat dari malam: .

– Shalat Maghrib, ketika matahari terbenam.

– Shalat Isya’, yaitu waktu terdekat dengan malam.

Dengan demikian jelas bahwa maksud ayat tersebut adalah juga untuk shatat lima waktu, bukan tiga waktu seperti tuduhan Himar Amos.

Dia lupa atau memang tidak tahu bahwa waktu siang itu memang ada dua tepi atau ada dua waktu pembagian. Dunia internasional pun mengakui bahwa waktu atau hari itu dibagi dalam dua tepi juga. Pertama sebelum pagi disebut dengan istilah a.m. = ante meridiem (before noon). Dan setelah lewat zhuhur yaitu ketika matahari mulai tergelincir, mereka sebut dengan istilah p.m. = post meridiem (between noon and midnight; afternoon).

Dengan keterangan di atas, maka jelas bahwa surat Al Israa’ 78 dan Huud 114 tidak bertentangan, keduanya sama-sama menunjukkan adanya shalat lima waktu, bukan dua atau tiga. Oleh sebab itu Al Qur’an tidak bertentangan dengan Hadits Shahih Bukhari nomor 211 yang mengatakan bahwa perintah shalat kepada Nabi Muhammad saw. adalah lima kali. Jadi, keterangan hadits maupun Al Qur’an tidak bertentangan atau tidaklah kacau, yang kacau adalah cara berpikir Drs. Himar Amos sendiri.

Mudah-mudahan saja kekeliruan Bapak Amos itu bukan kesengajaan, tapi karena ketololan dan kepicikan serta minimnya ilmu Al Qur’an. Maka pantas sekali dia memakai nama Himar Amos.

3. Hadits Shahih Bukhari nomor 211

Kemudian tentang permohonan Rasul kepada Allah agar perintah shalat 50 waktu diringankan menjadi 5 waktu, ini bukan tawar-menawar antara Allah dan nabi-Nya.

Permohonan Nabi tersebut tidak sama dengan tawar menawar, melainkan perjuangan beliau bagi umatnya, sebab beliau tahu bahwa sangat sulit bagi umatnya untuk melaksanakan shalat lima puluh kali sehari.

Itu pun hanya ujian Allah bagi Nabi, apakah beliau punya kepedulian dalam membela umatnya atau tidak. Ternyata beliau orang yang cerdas dan penuh tanggungjawab. Beliau bisa membayangkan kalau sehari saja harus shalat lima puluh kali, lantas kapan umatnya bisa mencari nafkah? Bukankah masih banyak hal-hal lain yang penting dalam mengisi waktu dalam kehidupan demi untuk beribadah kepada Allah? Yang namanya ibadah itu bukan hanya shalat saja.

Terjadinya permohonan Nabi Muhammad kepada Allah itu bukan main-main, tapi dilakukan Nabi Muhammad saw. dengan penuh pengharapan dan sungguh-sungguh sebagai manusia biasa dan untuk umatnya yang juga manusia biasa yang sudah barang tentu punya banyak kelemahan. Alhamdulillah, ternyata permohonan beliau dikabulkan oleh Allah Swt. yattu kewajiban shalat lima kali dalam sehari.

Sebenarnya permohonan Nabi Muhammad kepada Allah Swt. tidaklah aneh, sebab manusia yang sifatnya serba lemah, wajar saja jika dia memohon keringanan kepada Allah. Setiap manusia, siapapun dia, pasti selalu menginginkan keringanan dari Allah Swt. Umur yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. batasannya, tetap saja setiap kita berdoa kepada Allah, selalu memohon umur panjang.

Seandainya Himar Amos diberi tahu oleh Allah Swt. bahwa dia akan mati tepat pada usia 64 tahun, dia pasti terus berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk diberikan umur yang lebih panjang lagi, malah kalau bisa hidup 1000 tahun lagi. Apalagi umur bapak saat ini sudah 63 tahun lebih beberapa bulan, tentu tinggal beberapa tahun atau beberapa bulan lagi waktu yang tersisa untuk hidup di dunia.

Apakah Himar Amos diam seribu bahasa dan masa bodoh saja tanpa memohon kepada Tuhan supaya jangan dimatikan dulu pada usia 64 ? Barangkali setiap hari bisa 100 kali dia mohon keringanan kepada Tuhan agar umurnya diperpanjang.

Apakah lucu jika Amos memohon keringanan kepada Tuhan untuk diberikan umur panjang, walaupun Tuhan sudah katakan bahwa Amos akan mati tepat umur 64 tahun ? Tentu tidak, bukan ? Walaupun Amos yakin bahwa Yesus akan menebus segala dosa, tapi kami yakin Amos tetap saja akan memohon keringanan kepada Tuhan untuk diberikan umur panjang bukan ?

Oleh sebab itu tuduhan Himar Amos kepada Islam tidak beralasan, selain hanya karena kebencian kepada Islam serta karena kebodohan dan ketololan tentang ajaran Islam saja.

Yang jelas hikmahnya Allah menginginkan agar manusia selalu mempergunakan akal sehat dan ilmu dalam mengkaji segala sesuatu. Dan setiap kali mendengar sesuatu informasi, hendaklah dipikir dahulu sebelum memutuskan baik-buruk dan untung-ruginya.

Lucu: Tawar-menawar Tuhan dalam Bibel

Kalau mau membaca kitab Bibel milik Himar Amos, tawar menawar seperti itu justru lebih tidak masuk akal sehat. Karena dalam Bibel, Tuhan justru dinasihati oleh manusia. Tawar menawar versi Bibel milik Himar Amos itu terkesan main-main antara Allah dan Abraham. Coba simak tawar-menawar dan nasehat-menasehati antara Tuhan dan manusia dalam kitab Kejadian 18:22-33 berikut:

“Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata:

Abraham: Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar di dalam kota itu ? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu ? Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian daripada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?

Tuhan: Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.

Abraham: Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada-Mu, Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari lima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?

Tuhan: Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.

Abraham: Sekiranya empat puluh didapati di sana ?

Tuhan: Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.

Abraham: Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana ?

Tuhan: Aku tidak akan berbuat demikian, jika Aku dapati tiga puluh di sana.

Abraham: Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana ?

Tuhan: Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.

Abraham: Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana.

Tuhan: Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.

Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham. Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya”.

Ayat-ayat Bibel di atas jelas menunjukkan keganjilan yang mencolok. Janggal dan mustahil untuk diimani oleh manusia yang berakal waras. Namun, demikian itulah kenyataan yang ada dalam Bibel yang diimani oleh Himar Amos, murtadin penghujat agama Islam.

Setelah membandingkan ayat Al Qur’an dan Bibel tersebut, pembaca pasti bisa membedakan mana ajaran yang rasional dan mana ajaran yang tidak masuk akal.

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: