Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

Pendeta15

Kembali

Pendeta Menghujat Muallaf Meralat (15/22)

KUMANDANG AZAN MELANGGAR AL-QUR’AN

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Dalam banyak hal memang apa yang disebut dalam Al Qur’an diabaikan oleh pengikut agama bangsa Arab, bahkan dianggap tidak berlaku.

Tidak memperdulikan ayat-ayat Al Qur’an atau mengabaikan ayat-ayat Al Qur’an oleh pengikut agama bangsa Arab dapat dijumpal di mana-mana terutama di Indonesia, misalnya menurut Surat 7 Al A’raaf ayat 205 yang berbunyi:

“Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kerendahan dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai”.

Itulah bunyi ayat dalam Al Qur’an, akan tetapi dalam kenyataannya sebahagian besar pengikut agama bangsa Arab melalui mesjid-mesjid dengan sengaja mengeraskan suara sekuat-kuatnya dengan pengeras suara pada waktu menyebut nama Tuhan justru di pagi hari dan petang menjetang malam tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya dan sama sekali mengabaikan apa yang diperintahkan dalam Al Qur’an. (hal. 41-42)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Surat Al A’raaf ayat 205 tersebut mengatakan bahwa apabila menyebut nama Tuhan, hendaklah dilakukan dengan kerendahan hati, penuh rasa takut dan tanpa mengeraskan suara. Tapi maksudnya dalam konteks berdoa atau berzikir kepada Allah.

Dalam ayat tersebut Allah memberikan tuntunan tentang etika zikir atau mengingat akan Allah, di antaranya adalah:

1. Senantiasa mengingat Allah dalam hati serta merenungkannya. Sebab bila selalu kita renungkan yang mendalam, maka akan memperkuat rasa ikhlas dalam beramal.

2. Senantiasa merendahkan diri dan tidak sombong, sebab di hadapan Allah yang Maha Mulia, Maha Kaya dan Maha Kuasa, manusia tidak lebih hanyalah seorang hamba yang berasal dari air yang hina dina saja.

3. Senantiasa merasa takut akan Allah, sebab apabila pertolongan dan nikmat-Nya dicabut, niscaya manusia tidak kuasa menggantikan-Nya.

4. Tidak boleh bersorak-sorak atau berteriak-teriak (mengeraskan suara) dalam menyebut nama Allah, sebab Allah itu tidak tuli dan dekat dengan manusia.

5. Setiap saat senantiasa mengingat Allah di waktu pagi dan petang, agar jangan termasuk orang-orang yang lalai.

Jadi, surat Al A’raaf ayat 205 tersebut jelas melarang berzikir dengan suara yang keras. Hal ini sesuai pula dengan penjelasan Hadits Nabi:

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy’ari ra. berkata: “Seseorang mengangkat suaranya tinggi-tinggi ketika berdoa dalam suatu perjalanan. Maka Rasulullah menegur mereka: “Hai sekalian manusia! Tahanlah diri kalian, karena kalian tidak menyeru orang tuli dan tidak pula Dia Ghaib. Yang kamu seru itu Maha Mendengar lagi sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tempat dudukmu sendiri!”

Hadits tersebut melarang bersuara keras-keras dalam berzikir kepada Allah, sebab suara yang keras dan gaduh bisa merubah keadaan menjadi tidak khusyu’. Oleh sebab itu Al Qur’an dan Hadits Nabi tidak bertentangan, sama-sama melarang bersuara keras-keras apabila berzikir dalam mengingat Allah.

Rupanya yang dimaksud oleh Himar Amos dengan suara yang keras pakai pengeras suara di masjid-masjid adalah suara Azan saat masuk waktu shalat. Sebab dalam azan memang menyebut nama Tuhan beberapa kali dengan keras bahkan pakai pengeras suara. Sehingga menurut dia, hal itu bertentangan dengan surat Al A’raaf ayat 205. Akhirnya disimpulkan bahwa umat Islam Indonesia suka mengabaikan

Al Qur’an.

Maka kami berkesimpulan bahwa Himar Amos, penulis buku ‘Upacara Ibadah Haji’ benar-benar tidak bisa membedakan mana yang boleh dikeraskan dan mana yang tidak boleh dikeraskan suaranya.

Dari sini dapat dilihat sejauh mana ilmu dan wawasan Ors. Himar Amos. Selama 58 tahun beragama Islam, dia tidak bisa menbedakan antara zikir dan azan. Padahal bedanya sangat mencolok. Yang namanya zikir, pasti dengan suara pelan dan yang namanya Azan, pasti dengan suara keras. Lucu sekali kalau ada azan yang menyeru kaum muslimin, mengingatkan masuknya waktu shalat dan mengajak orang shalat jamaah, lalu harus berbisik-bisik ?

Jangan-jangan selama beragama Islam Himar Amos ini tidak pernah berzikir kepada Allah, sehingga tidak tahu bagaimana berzikir itu. Pantas saja kalau dia sampai pindah agama menjadi murtadin, membedakan antara zikir dan azan saja tidak becus!!

Oleh sebab itu untuk menjawab tulisan dia yang sangat tidak bermutu, tidak perlu harus dari seorang ustadz, kiyai atau sarjana muslim, dengan kami yang muallaf mantan Kristen dan baru punya sedikit ilmu Islam saja sudah lebih dari cukup.

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: