Fredy’s

Tiada Guna Ilmu yang Kau Miliki Jika Kau Melupakan Orang yang Membutuhkan Bantuanmu dan Semakin Tiada Guna Ilmu itu Jika Kau Melupakan Sang Penciptamu.

Pendeta22

Kembali

Pendeta Menghujat Muallaf Meralat (22/22)

YANG TIDAK MENYEMBAH BERHALA BATU HITAM DIKAFIRKAN OLEH MUHAMMAD

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Pada umumnya bangsa Arab yang beragamaYahudi dan yang beragama Kristen yang pada waktu itu sudah ada dan hidup di Mekkah dan Madinah, tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad karena mereka tahu bahwa hal ini bertentangan dengan kententutan yang berada dalam Tauratnya agama Yahudi dan Injilnya agama Kristen.

Tetapi anehnya orang-orang yang tidak mau menyembah dan mencium batu hitam Hajar Aswad tersebut oleh Muhammad dinyatakan sebagai orang musyrik dan orang kafir. (hal. 73-74)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Himar Amos menuduh bahwa Rasulullah memvonis orang yang tidak mau menyembah dan mencium Hajar Aswad sebagai orang kafir dan musyrik. Dengan tuduhan ini, Amos ingin memutarbalikkan fakta kebenaran. Dijunjungnya Kristen sambil menginjak dan merendahkan Nabi Muhammad. Pencuri berteriak maling. Thief cry thief, itulah ciri khas Himar Amos.

Himar Amos tidak tahu dan musti tahu bahwa tak satu pun umat Islam yang menyembah Hajar Aswad. Sekali lagi, tidak ada dan tidak pernah ada dari 14 abad yang lalu sampai kapan pun.

Umat Islam sejak SD sudah diajarkan arti ikhlas lillahi ta’ala. Bahwa ibadah akan diterima Allah dengan syarat dilakukan dengan ikhlas hanya karena dan untuk Allah Ta’ala saja.

Tentang siapa yang kafir serta musyrik, dan siapa yang bukan, perhatikan dan ingat baik-baik:

1. Musyrik, adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan menyembah dan beribadah kepada selah Allah (Qs. 2: 165, 10:18,19:81). Dalam Islam, syirik adalah dosa yang besar dan tak berampun (Qs. 4:48). Islam bukanlah agama yang syirik, sebab Islam tak kenal toleransi sedikit pun terhadap hal-hal yang berhubungan dengan syirik.

2. Kafir, adalah orang yang ingkar atau durhaka kepada Allah. Siapapun orangnya, asalkan durhaka dan ingkar serta berpaling dari ayat-ayat Allah, maka dia telah menyimpan sifat kafir (Qs. 6: 12-13).

– Orang Yahudi disebut kafir, karena ingkar kepada ayat-ayat Allah, durhaka melampaui batas, bahkan membunuh nabi Allah (Qs. 2:61).

– Orang Kristen juga disebut kafir karena meyakini ajaran Trinitas (Tritunggal), bahwaYesus adalah oknum Tuhan (Qs. 5:17,72,73).

Jelaslah bahwa orang Kristen disebut kafir karena meyakini Trinitas. Karena Himar Amos meyakini Trinitas, maka dia adalah kafir. Orang kafir semacam ini dicap Allah sebagai binatang yang paling buruk.

“Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (Qs. Al Anfaal 55).

Semua amalan orang kafir itu seperti fatamorgana. Mereka mengira akan mendapatkan sorga, tetapi sorga yang ditunggu-tunggu itu tak pernah kunjung tiba. Bahkan sebaliknya, mereka akan dicemplungkan ke dalam neraka.

“Dan orang-orang yang kafir, segala amal mereka itu laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus, tetapi bila didatanginya air itu, tidak didapatinya sesuatu pun” (Qs. An Nuur 39).

Baik kafir maupun musyrik, keduanya sama-sama tidak menghendaki kebaikan dari Allah (Qs. 2:105).

Akhirnya, di hari yang kekal nanti orang-orang kafir dari Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang musyrik akan diazab di neraka Jahannam selama-lamanya.

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang-orang musyrik akan masuk ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al Bayyinah 6).

HAJI ADALAH PENYEMBAHAN BERHALA YANG TERTUTUP

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Pengikut agama bangsa Arab selain Umar bin Khatthab, menyadari tentang kekeliruan ini, oleh sebab itu kekeliruan ini mereka tutupi dengan cara bahwa setiap orang yang bukan pengikut agama bangsa Arab dilarang datang ke Ka’bah Mekkah, agar praktek penyembahan berhala ini tidak terlihat keluar dengan harapan kekeliruan ini tidak akan diketahui oleh umum. Larangan ini khususnya ditujukan kepada pengikut-pengikut agama Yahudi dan agama Kristen, karena merekalah yang mengetahui Tuhan yang sebenarnya yang digambarkan dalam Taurat serta Injil dan yang telah diterapkan ke dalam Al Qur’an. (hal. 76)

Oleh sebab itulah Muhammad mengeluarkan ketentuan bagi pengikut agama Yahudi dan pengikut agama Kristen bahwa mereka termasuk orang-orang musyrik yang tidak boleh masuk ke Masjidil Haram di mana Ka’bah berada di dalamnya.

Larangan ini tertuang dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. (Surat 9 At Taubah ayat 28).

Segala usaha dilakukan agar pengikut agama yahudi dan pengikut agama Kristen tidak bisa memasuki tempat-tempat di mana upacara ibadah haji dilakukan yaitu Mekkah dan sekitamya agar praktek penyembahan berhala di Ka’bah tidak diketahui oleh orang luar. (hal. 77)

Bahkan jika kita berkendaraan mobil menuju ke kota Mekkah, maka sebelum kita memasuki kota tersebut, akan kita lihat adanya tanda petunjuk jalan yang besar di persimpangan jalan yang membagi jalan menjadi dua jurusan yaitu satu arah untuk orang-orang muslim yang dapat langsung memasuki kota Mekkah dan satu arah lagi bagi orang-orang yang bukan muslim yang tidak diperkenankan masuk ke kota Mekkah dan harus kembali lagi atau pergi ke arah lain. (hal. 78)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Memang benar, ada larangan bagi non muslim untuk memasuki kota-kota suci seperti Madinah dan Mekkah .Tetapi yang dimaksud non muslim di sini bukan hanya Yahudi dan Kristen, melainkan siapa saja yang bukan muslim.

Oleh sebab itu ada jalan khusus yang tidak boleh dimasuki oleh selain umat Islam. Pada perbatasan tertentu ada jalan lain yang dibuat khusus untuk non muslim. Perlu diketahui bahwa yang tidak boleh dimasuki oleh non muslim hanyalah dua kota suci saja yaitu Madinah serta Mekkah, dan sekitarnya.

Selain kota itu, mereka bebas memasukinya. Namanya saja ‘kota suci’, tentu harus diberlakukan peraturan khusus, agar kesucian kota tersebut benar-benar terpelihara sesuai dengan julukan yang diberikan terhadap kedua kota tersebut.

Kota suci, tentu saja suci dari segala hal, bebas dari segala najis. Bibel juga mengatakan, orang yang tidak disunat adalah najis, berarti tidak suci juga. Perhatikan ayat berikut ini:

“Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak seorang pun dari orang-orang asing yang hatinya dan dagingnya tidak bersunat, boleh masuk dalam tempat kudus-Ku, ya setiap orang asing yang ada di tengah-tengah orang Israel.” (Yehezkiel 44:9).

“Yang membiarkan orang-orang asing, yaitu orang-orang yang tidak bersunat hatinya maupun dagingnya masuk dalam tempat kudus-Ku dan dengan kehadirannya mereka menajiskannya waktu kamu mempersembahkan santapan-Ku, yaitu lemak dan darah. Dengan berbuat begitu kamu lebih mengingkari perjanjian-Ku daripada dengan segala perbuatanmu yang keji yang sudah-sudah.” (Yehezkiel 44:7).

“Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu daripada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan Allah yang hidup.” (I Samuel 17:36).

Adanya larangan bagi non muslim untuk memasuki kedua kota tersebut, bukan untuk menutupi praktek penyembahan berhala dalam ibadah haji, tapi karena memang Allah sendiri yang memberlakukan peraturan dan ketentuan terhadap mereka. Bukan Nabi Muhammad mengeluarkan larangan tersebut, melainkan Allah sendiri.

Mengatakan Nabi Muhammad saw yang mengeluarkan larangan tersebut, merupakan fitnah yang sengaja. Tentu ini tidak bisa kita terima. Padahal larangan itu dari Allah sendiri dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 28 sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.”

Jelas sekali dari teks ayat tersebut, bahwa bukan Nabi Muhammad, melainkan Allah sendiri yang melarang orang-orang musyrik untuk memasuki kota suci. Tidak bolehnya orang musyrik untuk memasuki kedua kota itu bukan untuk menutupi upacara penyembahan berhala agar tidak diketahui orang lain. Di Mekkah sama sekali tidak ada penyembahan berhala, itu benar-benar fitnah terhadap ajaran Islam.

Logikanya, kalau memang upacara ibadah haji itu sengaja ditutup-tutupi agar orang lain yang bukan muslim tidak mengetahuinya, kenapa acara tersebut disiarkan secara langsung ke seluruh dunia melalui televisi? Apakah Himar Amos tidak pernah nonton televisi? Nah, dari sini saja bisa diukur sejauh mana wawasan Islam Himar Amos.

Apakah Amos tidak tahu bahwa orang yang pergi naik haji bukan hanya orang Indonesia, tapi dari segala penjuru dunia? Jangan-jangan pengakuannya bahwa dia sudah naik haji tahun 1983 adalah bohong besar.

Oleh sebab itu, sungguh memalukan sekali kalau orang seperti Himar Amos tersebut dianggap sebagai pembela agama Kristen. Bahkan sangat merugikan umat Kristen umumnya karena baru punya ilmu sederajat tingkat TK sudah berani mengotak-atik kepercayaan orang lain. Padahal dia sendiri sangat buta tentang agama Islam maupun Kristen.

HAJI ADALAH PEKERJAAN SYIRIK KEPADA ALLAH

Pendapat Drs. H. Amos (Pendeta Nehemia)

Pada kenyataannya sebagian besar pengikut agama bangsa Arab tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa yang disembah dan dipuja adalah pada hakekatnya batu hitam Hajar Aswad.

Penyembahan pada batu Hajar Aswad ini baru disadari pada waktu pengikut agama bangsa Arab ini melakukan rukun Islam yang kelima yaitu pergi ke Ka’bah di Makah dan harus menyembah dan mencium batu hitam HajarAswad tersebut.

Pada saat mencium batu hitam Hajar Aswad ini barulah orang tersadar bahwa yang dilakukan tidak lain adalah pekerjaan syirik yaitu mempersekutukan Allah dengan batu hitam tersebut. (hal. 83)

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus)

Pada kenyataannya, justru umat Kristen yang keliru menilai Islam. Mereka keliru karena dibodoh-bodohi oleh para penginjil dan evangelis macam Himar Amos, dr. Suradi Ben Abraham dan Pdt. M. Matius cs. dengan mengatakan bahwa umat Islam melakukan perbuatan syirik karena menyembah Hajar Aswad. Alasannya, karena umat Islam mencium Hajar Aswad dalam ibadah haji.

Mereka tidak bisa membedakan kata ‘menyembah’ dengan kata ‘mencium’. Karena menyembah disamaartikan dengan mencium, maka mereka menganggap bahwa umat Islam melakukan perbuatan syirik dengan mencium atau menyembah Hajar Aswad.

Padahal mencium Hajar Aswad itu bukan untuk menyembah, melainkan semata-mata sebagai ritual dan karena kepatuhan pada perintah Allah. Karena Allah memerintahkan untuk menciumnya, maka umat Islam mematuhi.

Dan perlu diingat, bahwa mencium Hajar Aswad bukanlah kewajiban atau keharusan, melainkan hanya sunnah saja.

Rahasia dan keistimewaan Hajar Aswad

Yang menarik untuk dikaji adalah pertanyaan mengapa Rasulullah menyuruh meraba/memegang batu Hajar Aswad, bahkan kalau bisa menciumnya?

Sejarahnya, batu hitam Hajar Aswad tersebut sudah ada ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad dan Nabi Isa lahir ke dunia. Bermula ketika NabiYakub dalam suatu perjalanan dari Bersyeba menuju Paran. Karena merasa lelah, dia beristirahat pada suatu tempat sambil mengambil sebuah batu menjadi bantalnya. Saat itu Tuhan memberikan mimpi kepadanya, bahwa dari bumi tempat dia bermalam itu ada didirikan tangga yang ujungnya menjulang sampai ke langit. Dan pada tangga tersebut para malaikat Tuhan naik-turun. Ketika Nabi Yakub terbangun dari tidurnya, ia merasa takut dan berkata: “Sesungguhnya Tuhan berada di tempat ini tanpa aku ketahui, dan sungguh dahsyat tempat ini. Tempat ini pasti rumah dari Allah, dan pasti daerah inilah pintu gerbang menuju sorga”.

Ketika Nabi Yakub bangun pagi-pagi, diambilnya batu tersebut, dituangkan minyak wangi pada batu itu, kemudian diambilnya batu tersebut, lalu mendirikannya sebuah tugu tanda peringatan sebagai rumah Allah. Maka tempat itu dinamakannya Bethel (Baitullah) yang artinya rumah Allah.

Apa yang dialami oleh NabiYakub hampir 40 abad yang lalu adalah mukjizat besar, sebab batu hitam yang dituangi minyak tersebut sampai saat ini masih tetap wangi.

Karena tempat NabiYakub bermimpikan tersebut adalah pintu gerbang menuju sorga, maka Nabi Ibrahim as. mewajibkan umatnya untuk berziarah ke sana setiap tahun bagi yang mampu. Sebab dengan berziarah ke tempat tersebut, akan bisa dilihat langsung kebesaran Allah, antara lain:

a. Ka’bah (Baitullah), merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as.

b. Sumur Zam-Zam, bukti kebesaran Allah atas Nabi Ismail.

c. Batu hitam Hajar Aswad yang masih tetap wangi sampai sekarang sebagai bukti kebesaran Allah atas nabiYakub as.

d. Maqam (tanda telapak kaki) Nabi Ibrahim ketika membangun Baitullah.

e. Makam (kuburan) Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya yang masih terpelihara sampai sekarang dll.

Haji itu sama artinya dengan ziarah. Maka umat yang melakukan ibadah haji itu sama artinya mereka melakukan ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah dalam rangka melakukan perintah agama, sekaligus melihat langsung kebesaran Allah yang ada di sana.

Khusus terhadap batu hitam Hajar Aswad, Nabi Muhammad saw. menciumnya, karena dengan mencium bau wangi dari batu tersebut, memberikan kesan akan kebesaran Allah swt., karena atas kehendak Allah swt. batu hitam tersebut tetap wangi sampai saat ini. Dengan bisa memegang dan mencium harumnya batu hitam tersebut, yang tadinya hanya ‘ilmul yaqin, maka sekarang menjadi ‘ainul yaqin, bahkan haqqul yaqin.

Oleh karena itu memegang atau meraba dan mencium batu hitam Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad saw. disunnahkan saja, bukan wajib.

Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.

Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: